Sejarah Kimono

April 28, 2018

Add caption


Istilah Kimono pada awalnya digunakan  untuk menyebut pakaian yang dipakai sehari-hari. Namun seiring berjalannya waktu kimono disebut sebagai pakaian tradisional Jepang dan hanya digunakan ketika perayaan tertentu. Istilah kimono dikenal sejak zaman Jomon dan Yayoi (14.500 SM) yang merupakan baju terusan. 

Kemudian pada zaman Kofun, kimono dipakai secara terpisah atas bawah dan mulai dijahit. Pada bagian rok, dibuat terbuka dan bagian lengan bawah dijahit agar mudah dipakai. Pakaian bagian atas memiliki dua jenis kerah yaitu kerah datar sampai bawah leher (agekubi) dan kerah V (tarekubi)

Pada zaman Nara (710-794) orang-orang tetap menggunakan pakaian dengan model terpisah antara atas-bawah dan one piece. Namun pada periode Heian, teknik pembuatan kimono semakin berkembang. Para perancang membuat kimono dengan teknik potong lurus lalu dijahit. Dengan begitu tidak perlu menyesuaikan dengan bentuk tubuh pemakainya.

Kimono yang dipotong lurus memiliki banyak keuntungan, diantaranya mudah dilipat, cocok untuk segala musim. Kimono juga dapat digunakan berlapis untuk memberikan kehangatan saat musim dingin, serta kimono juga dibuat dari bahan yang memudahkan pemakainya untuk bernafas seperti kain linen yang nyaman digunakan saat musim panas. Keuntungan ini membuat kimono menjadi bagian kehidupan masyarakat Jepang sehari-hari.

Semakin lama, pemakaian kimono yang berlapis-lapis menjadi trend fashion. Masyarakat mulai memadukan warna-warna berbeda, dan mengembangkan kepekaan terhadap warna. Contohnya kombinasi warna merepresentasikan musim atau kelas politik.

Selama zaman Kamakura (1192-1338) dan zaman Muromachi (1338-1573) laki-laki dan perempuan mengenakan kimono dengan warna terang. Para pejuang memakai kimono yang warnanya menunjukkan kepemimpinannya, dan kadang-kadang di medan perang tampak seperti pertunjukan fashion karena pakaiannya indah dan berwarna-warni.

Ketika zaman Edo (1603-1868) Klan Tokugawa menguasai Jepang. Seluruh perfektur diubah menjadi feodal yang diatur oleh Kaisar. Para Samurai (pejuang) di setiap daerah mengenakan warna dan pola kimono sesuai identitas, yang mereka sebut seragam. Pada masa ini kimono dibuat dari serat rami (kain katun). Kimono wanita disebut tamoto yang merupakan bentuk awal dari furisode, yaitu kimono yang berlengan panjang yang digunakan oleh wanita yang menikah.

Kamishimo dibuat dari bahan linen, dijahit untuk memberikan kesan bahunya naik. Kamishimo saat ini masih digunakan oleh aktor Noh, dan banyak juga perempuan yang menggunakannya saat akan menonton pertunjukan Kabuki. Dengan banyaknya pakaian samurai yang dibuat, penjahit kimono semakin mahir dalam membuatnya, dan kimono semakin berkembang menjadi bentuk seni. Kimono menjadi lebih bernilai.

Pada zaman Meiji (1868-1912) Jepang terpengaruh oleh budaya asing. Pemerintah menganjurkan warga untuk mengadopsi pakaian dan perilaku orang Barat. Perangkat pemerintah dan militer diatur secara hokum untuk mengenakan pakaian Barat untuk kepentingan resmi. Bagi masyarakat biasa diminta mengenakan Kimono pada acara formal dan diberi hiasan yang membawa identitas keluarga.

Saat ini masyarakat Jepang sangat jarang menggunakan Kimono sebagai pakaian sehari-hari, kecuali acara khusus seperti pernikahan, upacara kematian, upacara minum teh, ataupun perayaan khusus seperti festival musim panas.

1 comment:

Powered by Blogger.