Sejarah Kimono
![]() |
| Add caption |
Istilah Kimono pada awalnya
digunakan untuk menyebut pakaian yang
dipakai sehari-hari. Namun seiring berjalannya waktu kimono disebut sebagai
pakaian tradisional Jepang dan hanya digunakan ketika perayaan tertentu. Istilah kimono dikenal sejak zaman Jomon dan Yayoi (14.500 SM) yang merupakan baju terusan.
Kemudian pada zaman Kofun, kimono dipakai secara terpisah atas bawah dan mulai dijahit. Pada bagian rok, dibuat terbuka dan bagian lengan bawah dijahit agar mudah dipakai. Pakaian bagian atas memiliki dua jenis kerah yaitu kerah datar sampai bawah leher (agekubi) dan kerah V (tarekubi)
Kemudian pada zaman Kofun, kimono dipakai secara terpisah atas bawah dan mulai dijahit. Pada bagian rok, dibuat terbuka dan bagian lengan bawah dijahit agar mudah dipakai. Pakaian bagian atas memiliki dua jenis kerah yaitu kerah datar sampai bawah leher (agekubi) dan kerah V (tarekubi)
Pada zaman Nara (710-794) orang-orang tetap menggunakan pakaian dengan model terpisah antara atas-bawah dan one piece. Namun pada periode Heian,
teknik pembuatan kimono semakin berkembang. Para perancang membuat kimono
dengan teknik potong lurus lalu dijahit. Dengan begitu tidak perlu menyesuaikan
dengan bentuk tubuh pemakainya.
Kimono yang dipotong lurus memiliki
banyak keuntungan, diantaranya mudah dilipat, cocok untuk segala musim. Kimono
juga dapat digunakan berlapis untuk memberikan kehangatan saat musim dingin,
serta kimono juga dibuat dari bahan yang memudahkan pemakainya untuk bernafas
seperti kain linen yang nyaman digunakan saat musim panas. Keuntungan ini
membuat kimono menjadi bagian kehidupan masyarakat Jepang sehari-hari.
Semakin lama, pemakaian kimono yang
berlapis-lapis menjadi trend fashion.
Masyarakat mulai memadukan warna-warna berbeda, dan mengembangkan kepekaan
terhadap warna. Contohnya kombinasi warna merepresentasikan musim atau kelas
politik.
Selama zaman Kamakura (1192-1338) dan
zaman Muromachi (1338-1573) laki-laki dan perempuan mengenakan kimono dengan
warna terang. Para pejuang memakai kimono yang warnanya menunjukkan
kepemimpinannya, dan kadang-kadang di medan perang tampak seperti pertunjukan
fashion karena pakaiannya indah dan berwarna-warni.
Ketika zaman Edo (1603-1868) Klan
Tokugawa menguasai Jepang. Seluruh perfektur diubah menjadi feodal yang diatur
oleh Kaisar. Para Samurai (pejuang) di setiap daerah mengenakan warna dan pola
kimono sesuai identitas, yang mereka sebut seragam. Pada masa ini kimono dibuat dari serat rami (kain katun). Kimono wanita disebut tamoto yang merupakan bentuk awal dari furisode, yaitu kimono yang berlengan panjang yang digunakan oleh wanita yang menikah.
Kamishimo dibuat dari bahan linen,
dijahit untuk memberikan kesan bahunya naik. Kamishimo saat ini masih digunakan
oleh aktor Noh, dan banyak juga perempuan yang menggunakannya saat akan
menonton pertunjukan Kabuki. Dengan banyaknya pakaian samurai yang
dibuat, penjahit kimono semakin mahir dalam membuatnya, dan kimono semakin
berkembang menjadi bentuk seni. Kimono menjadi lebih bernilai.
Pada zaman Meiji (1868-1912) Jepang
terpengaruh oleh budaya asing. Pemerintah menganjurkan warga untuk mengadopsi
pakaian dan perilaku orang Barat. Perangkat pemerintah dan militer diatur
secara hokum untuk mengenakan pakaian Barat untuk kepentingan resmi. Bagi
masyarakat biasa diminta mengenakan Kimono pada acara formal dan diberi hiasan
yang membawa identitas keluarga.
Saat ini masyarakat Jepang sangat
jarang menggunakan Kimono sebagai pakaian sehari-hari, kecuali acara khusus
seperti pernikahan, upacara kematian, upacara minum teh, ataupun perayaan
khusus seperti festival musim panas.

cantik sekali kimono yah
ReplyDeleteonline media indonesia